Mentari di ufuk timur mulai memancarkan sinarnya, menyilaukan sepasang mata yang masih terlelap . Saatnya untuk memulai aktivitas di pagi yang cerah ini . Ku lihat jam pada kamarku, jarum menunjukkan pukul setengah 6 . Aku pun segera bergegas beranjak dari tempat tidurku karena seharusnya aku harus bangun pukul 4 pagi tadi .
Tak terasa kini aku sudah menginjak masa remaja, tepatnya kini aku sudah kelas 1 SMA . Setiap pagi ibu selalu menyiapkan sarapan lebih awal . Namun, entah kenapa pagi ini ibu belum menyiapkannya . Aku melihat jam pada tanganku yang menunjukkan pukul setengah 7 . Aku pun langsung menemui ibuku .
Aku : " ibu, sarapannya mana ? "
Ibu : " sebentar ya nak, ibu terlambat bangun tadi pagi . Akan ibu buatin sarapan sekarang . "
Aku : " tidak usahlah bu, aku sudah telat ini! lagian ibu gimana sih . Biasanya ibu gak pernah telat menyiapkanku sarapan! sudahlah aku berangkat dulu "
Ibu : " tapi nak , kalau kamu tidak sarapan nanti kamu sakit "
Aku pun pergi tanpa menghiraukan kata-kata ibu, dan tanpa pamit padanya tak seperti biasa yang aku lakukan sehari-harinya . Entah kenapa aku waktu itu, hingga hal sepele dapat membuatku marah kepada ibuku . Aku pun segera menghidupkan motor maticku dan segera berangkat dengan tergesa-gesa . Saat perjalanan berangkat ke sekolah, tiba-tiba lampu merah menyala yang tandanya aku harus berhenti . Sambil menunggu lampu hijau menyala tak sengaja aku melihat seorang ayah yang menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang . Tiba-tiba aku teringat ayahku yang telah lama tiada dan telah lama aku lupakan karena kesibukanku . Aku teringat dimana aku melakukan kesalahan padanya yang tidak sempat aku mendapatkan maaf darinya .
Hari itu, hari dimana ayah meninggalkan aku dan keluargaku . Waktu itu aku masih berumur 10 tahun . ayah begitu berbeda dari biasanya , pagi-pagi ia tiba-tiba membantu ibu mencuci piring yang membuat ibu heran akannya . Ayah terlihat sangat pucat , namun ia tidak mau terlihat sakit dan lemah di depan keluarganya , karena ia berfikir ia tidak ingin merepotkan anak dan istrinya .
Hari itu bertepatan bulan puasa . Saat adzan maghrib tiba yang tandanya kita yang berpuasa harus segera berbuka , seperti biasa kami sekeluarga berbuka bersama . Setelah berbuka ayah menyuruhku untuk shalat maghrib berjamaah , namun aku tidak menghiraukannya karena aku masih asyik melihat TV yang membuat aku lupa waktu shalat . Setelah Shalat ayah menghampiriku sambil memarahiku .
Ayah : " ayah sudah menyuruhmu shalat , kenapa tidak mau nurut ?! cepat matikan TVnya !!"
Aku : " bentar yah , masih asik nih acara TVnya "
Ayah : " yaudah biar ayah yang matiin TVnya! " ( sambil mematikan TV )
Aku yang waktu itu sedang asyik lihat TV sangatlah marah kepada ayah, aku langsung lari ke kamar, mengunci pintu kamar, dan tidak menghiraukan nasihat ayah . Hingga beberapa saat kemudian ibu memanggilku .
Ibu : " Nitaa ... Nitaa !!! lihat ayahmu ituuu !!! " ( panik )
saat melihat mimik wajah ibu yang sangat panik aku pun kaget .
Aku : " ayah kenapa buu ?! "
Ibu : " ayah muntah darah, cepat panggil kakak-kakakmu suruh mereka membawa ayah ke rumah sakit !! "
Aku pun segera telepon kakak-kakakku agar segera mengantarkan ayah ke rumah sakit . Saat aku kembali untuk melihat keadaan ayah , ayah sudah tergeletak dan tak sadarkan diri . Aku dan ibu semakin panik melihat keadaan ayah . Kakak-kakakku pun datang dan segera membawa ayah ke rumah sakit . Namun, takdir berkata lain . Ayah tidak dapat diselamatkan lagi karena penyakit yang dideritanya sudah sangat parah, begitulah kata dokter . Kenyataan ini memang sangat sulit untukku serta keluargaku percaya, namun ini bukanlah mimpi . Aku yang waktu itu marah pada ayah karena perbuatan sepele merasa menyesal, bahkan sangat menyesal karena aku tidak sempat mendapatkan maaf darinya . Namun waktu tidak dapat diulang kembali .
" TINNNN!!!! .... TINNNNN!!! " . Tiba-tiba suara bel motor membuyarkan lamunanku . Aku pun segera mengegas motorku . " Ya Allah aku tidak ingin hal itu terulang kembali, aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama! " hanya kata-kata itulah yang selalu terngiang di benakku selama perjalanan menuju sekolah . Aku teringat dan tersadar akan kesalahanku pada ibuku . " Ya Allah perkenankan aku untuk mendapatkan maaf dari ibuku, jangan biarkan aku merasakan penyesalan yang amat dalam yang tidak ingin kurasakan untuk kedua kalinya " kalimat inilah yang berganti terngiang di benakku yang membuat aku ingin segera bertemu dengan ibuku .
Bel pulang sekolah berbunyi, aku segera bergegas pulang . Inginku hanya satu yaitu segera meminta maaf kepada ibuku . Sesampainya di rumah aku segera memeluk dan memohon maaf pada ibu .
Aku : " Ibu .. maafkan kesalahan anakmu ini, maaf karena aku sudah membentak dan berbuat salah kepada ibu tadi pagi, maafkan aku buu "
Ibu : " sudahlah nak, tidak apa-apa . Ibu sudah memaafkan kamu "
Semenjak itu aku selalu berjanji pada diriku sediri dikala aku sedang emosi atau marah agar emosiku tersebut tidak tertumpahkan pada ibuku . Aku tidak ingiin kesalahanku yang sama terulang kembali . " ya Allah, panjangkan umur ibuku . Perkenankan ia menemaniku sampai hamba tua nanti, dan perkenankan aku untuk membuatnya menangis bahagia karena jerih payahku suatu saat nanti " . Doa itulah yang selalu aku selipkan di setiap doa shalatku .
Selasa, 28 Agustus 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar